Tulisan ini dibuat karena saya merasa bersalah setelah berjanji untuk menghidupkan kembali blog ini, saya tak kunjung menuliskan apapun.
Valentine itu lebih identik pada couple/pasangan, tapi apalah asiknya menulis tentang sesuatu yang sudah diketahui oleh orang banyak? Semua orang dari anak SD (bahkan mungkin TK atau PAUD) tahu bahwa Valentine itu hari kasih sayang dimana mereka yang punya pasangan melakukan hal-hal romantis bersama pasangannya masing-masing (tetapi tidak menutup kemungkinan bersama pasangan orang lain juga). Lalu, bagaimana dengan mereka yang tidak punya pasangan? Hmm, para jomblo punya dua pilihan. Pertama, mereka bisa menyatakan cinta pada seseorang di hari Valentine, lalu (jika diterima) melakukan hal-hal romantis bersama. Kedua, mereka bisa tiduran di kamar sambil twitteran atau baca blog ini, lalu berharap diluar hujan deras sehingga jika ada yang bertanya "Gak keluar sama pacarnya?" Mereka bisa menjawab, "Aduh, jangan bahas itulah. Sedih gw kalau ditanya soal itu. Sialan banget nih hujan, padahal gw udah sewa EO sama restoran buat malam ini. Rencananya gw mau ngelamar dia." sambil berharap siapapun yang bertanya tidak sok baik hati dan meminjamkan mobilnya lengkap dengan setelan jas terbaiknya.
Anyway, bukan itu yang mau saya bahas kali ini, yang ingin saya bahas kali ini adalah keuntungan menjadi jomblo pada saat Valentine. Para jomblo punya sepuluh keuntungan dibandingkan mereka yang sudah punya pacar di hari Valentine.
Pertama, ini sebenarnya sudah disebutkan di atas, tapi karena saya sedang kekurangan bahan, jadi disebutkan lagi. Ini adalah keuntungan terbesar menjadi seorang jomblo di hari Valentine. Para jomblo bisa menyatakan cinta pada orang yang disukainya dan menaikkan status mereka dari teman menjadi pacar (atau turun menjadi orang asing).
Kedua, para jomblo bebas menerima coklat dari siapapun sebanyak apapun dan secakep apapun yang ngasih, tanpa perlu takut dimarahin sama pacarnya. Meskipun, harus diakui, biasanya para jomblo hanya mendapatkan coklat dari teman dekatnya. Terkadang, temannya malah bukan lawan jenis. Lebih parahnya lagi, coklatnya coklat sisa. Terus, ternyata itu sisa pacar temannya itu dan pacarnya tahu, lalu marah-marah gak jelas. Tapi, ambil sisi positifnya aja, setidaknya masih ada yang ngasih coklat.
Ketiga, para jomblo gak perlu mengeluarkan uang banyak untuk membeli coklat mahal, cukup dengan modal lima ribu rupiah, mereka sudah bisa mendapatkan coklat untuk semua orang yang perlu dikasih coklat. Iya, lima ribu. Belinya coklat chacha, setiap orang dikasih tiga butir. Sisanya makan sendiri. Memang, terkesan agak pelit, tapi siapa yang perduli? Mereka yang dikasih coklat? Helllowwww. Memangnya habis dikasih coklat mereka mau jadian? Enggak, kan? Ya udah, coklat chacha tiga butir aja udah lebih dari cukup lah. Kebanyakan malah harusnya sebutir aja.
Keempat, para jomblo enggak perlu repot mencari kado valentine untuk pacarnya. Pacar aja belum punya, ngapain nyari kado valentine? Buat pacar masa depan? Kayak punya masa depan aja.
Kelima, para jomblo bisa tidur lebih awal. Pada hari valentine, keadaan di luar kamar akan sangat pedih untuk dilihat karena di setiap ruangan, pengkolan, bangku taman, bahkan di dalam semak-semak, akan ada sepasang kekasih yang sedang memadu kasih. Bayangkan ketika keluar kamar ada adik/kakaknya yang sedang pacaran di ruang tamu, baru keluar rumah di belokan depan ada yang pacaran di atas motor, jalan ke taman, bangku taman penuh sama yang pacaran, pas mau pulang tiba-tiba ada yang bergerak-gerak di semak-semak dan setelah didekati ternyata sepasang pemuda. Daripada tersiksa melihat adegan romantis yang menjijikkan nan menyayat hati itu lebih baik tidur lebih awal. Iya, kan?
Sisanya cari sendiri, ya. Soalnya mau saya simpan untuk tahun depan, kalau tahun depan saya sedang bosan dan masih jomblo lalu kebetulan blog ini masih ada dan saya sedang berminat menulis, saya akan tulis keuntungan keenam sampai kesepuluhnya.
Semoga informasi di atas bisa membantu kalian untuk tetap hidup melewati tanggal 14 februari nanti. Kalau kalian masih merasa ini belum cukup, saya akan memberikan sebuah informasi yang semoga bisa membantu : "Ternyata, Line bisa memindai QR code dari galeri foto."
Sekian dan terima kembalian serta saweran. Tapi, tidak menerima sumbangan.
Feb 13, 2015
Dec 28, 2014
Revive
Hi, apa kabar? Tempat ini masih seperti dulu sepertinya. Eh, enggak deh. Lebih banyak debu sekarang.
Jadi, gini... Saya berpikir untuk kembali menulis di sini tidak pasti apakah akan setiap bulan atau setiap minggu. Yang jelas, setiap saya punya cerita untuk dibagikan, saya akan menuliskannya di sini. Kehidupan saya tidak terlalu menarik, jadi jangan terlalu berharap akan ada banyak cerita yang bisa saya bagikan. Oh, dan jangan harap ceritanya akan memberikan pengetahuan yang baru bagi kalian (siapapun yang membaca blog ini). Kenapa? Karena isi blog ini masih akan sama seperti sebelumnya absurd dan tidak berbobot. Kadang malah garing, jayus, dan krik krik krik. Haha.
Nah, alasan saya ingin menulis lagi di sini ada dua. Pertama, karena ada seseorang yang berjuang empat bulan untuk menemukan saya di dunia maya. Jadi, ini sejenis bentuk permintaan maaf for giving her such a fake hope. Hahaha. Dan rasa terima kasih untuk ceritanya. Grin. (Terlepas dari apakah dia akan membacanya atau tidak.) Alasan kedua, karena... Hmm, setelah dipikir-pikir alasan kedua terdengar memalukan. Jadi, lupakan saja.
So, here is the first story.
Kalian tahu tren bapak-bapak saat ini? Enggak cuma bapak-bapak sih, anak muda dan anak kecil juga ada beberapa yang mengandrungi tren ini. Saya enggak tahu apa nama resmi tren itu jadi kita sebut saja tren cincin dan batu. Tapi, kali ini saya cuma akan membahas tren batu. Iya, tren yang itu, yang membuat bapak-bapak jadi mulai kehilangan rasionalitas sampai mencari batu ditumpukan pasir.
Tarik napas kalian dalam-dalam, karena kita akan memasuki bagian paling sedih dari cerita kali ini.
Siap?
Oke, jadi pagi ini akhirnya... adik saya terjangkit penyakit itu. Saya sampai mau menangis melihatnya. Pagi-pagi, enggak ada angin enggak ada hujan, dia berpetualang ke tumpukan pasir dan dengan semangat empat lima mendeklarasikan niatnya untuk mencari batu. Lalu, setiap lima sampai sepuluh menit dia kembali ke rumah membawa... batu. Tidak hanya satu atau dua, kadang sepuluh yang menurut pengelihatan saya semuanya batu. Batu dan tidak berharga. Tapi, sebagai kakak yang baik hati dan tidak sombong, saya cuma bisa mengelus dada.
Setelah batunya terkumpul, dia menuju dapur mengambil asahan pisau ibu saya, lalu mulai mengasah batunya. Mengasah sepertinya bukan istilah yang tepat karena semua batu itu tidak bertambah tajam mereka makin tumpul dan halus. Saya mulai meragukan kemampuan mengasah asahan pisau ibu saya. Entah, ibu saya tertipu oleh tukang jualan asah pisau atau memang atas dasar pengematan dia membeli asahan pisau yang lebih murah sehingga hasilnya kurang memuaskan.
Kembali, ke batu-batu yang semakin lama semakin halus dan semakin banyak. Singkat cerita, ngebala.
Setelah mengas—menghaluskan banyak batu akhirnya dia menemukan batu. Iya, ini terdengar aneh. Jadi, kalian simpulkan saja sendiri dari percakapan di bawah ini.
Adik Saya : "Akhirnya, gw nemuin batu nih."
Saya : "Mana coba gw lihat?" (sambil mencoba untuk bersabar dan menahan diri untuk berkata "Ya dari tadi yang lo ambil itu kalau bukan batu apa namanya?!!)
Adik Saya : (dengan tampang polos tidak berdosa menunjukkan batunya pada saya.)
Saya : (melihat dengan tampang bego, mencoba untuk memahami dari sisi mana batu itu berbeda dari batu-batu yang sebelumnya, yang dikategorikan oleh adik saya sebagai bukan batu.)
Adik Saya : "Lihat nih, gw yakin yang ini batu. Warnanya kuning."
Saya : "Apanya yang batu, warnanya kuning begitu." (saya juga enggak tahu apa yang saya ucapkan tapi berdasarkan pengalaman saya selama hidup di dunia ini, warna kuning lebih identik dengan sesuatu yang bau bukan batu.)
Adik Saya : "Lihat ini. Warnanya kuning begini."
Saya : "Justru karena kuning."
Adik Saya : "Ya udah kalau lo gak percaya." (mengalihkan perhatiannya pada proses penghalusan batu lagi.)
Saya : ... (pergi dengan senang hati.)
Lima menit kemudian.
Adik Saya: "Kayaknya ini bukan batu."
Dan setelah tiga jam bolak balik antara dapur dan tumpukan pasir, akhirnya adik saya menyerah. Fiuh, untunglah.
Jadi, gini... Saya berpikir untuk kembali menulis di sini tidak pasti apakah akan setiap bulan atau setiap minggu. Yang jelas, setiap saya punya cerita untuk dibagikan, saya akan menuliskannya di sini. Kehidupan saya tidak terlalu menarik, jadi jangan terlalu berharap akan ada banyak cerita yang bisa saya bagikan. Oh, dan jangan harap ceritanya akan memberikan pengetahuan yang baru bagi kalian (siapapun yang membaca blog ini). Kenapa? Karena isi blog ini masih akan sama seperti sebelumnya absurd dan tidak berbobot. Kadang malah garing, jayus, dan krik krik krik. Haha.
Nah, alasan saya ingin menulis lagi di sini ada dua. Pertama, karena ada seseorang yang berjuang empat bulan untuk menemukan saya di dunia maya. Jadi, ini sejenis bentuk permintaan maaf for giving her such a fake hope. Hahaha. Dan rasa terima kasih untuk ceritanya. Grin. (Terlepas dari apakah dia akan membacanya atau tidak.) Alasan kedua, karena... Hmm, setelah dipikir-pikir alasan kedua terdengar memalukan. Jadi, lupakan saja.
So, here is the first story.
Kalian tahu tren bapak-bapak saat ini? Enggak cuma bapak-bapak sih, anak muda dan anak kecil juga ada beberapa yang mengandrungi tren ini. Saya enggak tahu apa nama resmi tren itu jadi kita sebut saja tren cincin dan batu. Tapi, kali ini saya cuma akan membahas tren batu. Iya, tren yang itu, yang membuat bapak-bapak jadi mulai kehilangan rasionalitas sampai mencari batu ditumpukan pasir.
Tarik napas kalian dalam-dalam, karena kita akan memasuki bagian paling sedih dari cerita kali ini.
Siap?
Oke, jadi pagi ini akhirnya... adik saya terjangkit penyakit itu. Saya sampai mau menangis melihatnya. Pagi-pagi, enggak ada angin enggak ada hujan, dia berpetualang ke tumpukan pasir dan dengan semangat empat lima mendeklarasikan niatnya untuk mencari batu. Lalu, setiap lima sampai sepuluh menit dia kembali ke rumah membawa... batu. Tidak hanya satu atau dua, kadang sepuluh yang menurut pengelihatan saya semuanya batu. Batu dan tidak berharga. Tapi, sebagai kakak yang baik hati dan tidak sombong, saya cuma bisa mengelus dada.
Setelah batunya terkumpul, dia menuju dapur mengambil asahan pisau ibu saya, lalu mulai mengasah batunya. Mengasah sepertinya bukan istilah yang tepat karena semua batu itu tidak bertambah tajam mereka makin tumpul dan halus. Saya mulai meragukan kemampuan mengasah asahan pisau ibu saya. Entah, ibu saya tertipu oleh tukang jualan asah pisau atau memang atas dasar pengematan dia membeli asahan pisau yang lebih murah sehingga hasilnya kurang memuaskan.
Kembali, ke batu-batu yang semakin lama semakin halus dan semakin banyak. Singkat cerita, ngebala.
Setelah mengas—menghaluskan banyak batu akhirnya dia menemukan batu. Iya, ini terdengar aneh. Jadi, kalian simpulkan saja sendiri dari percakapan di bawah ini.
Adik Saya : "Akhirnya, gw nemuin batu nih."
Saya : "Mana coba gw lihat?" (sambil mencoba untuk bersabar dan menahan diri untuk berkata "Ya dari tadi yang lo ambil itu kalau bukan batu apa namanya?!!)
Adik Saya : (dengan tampang polos tidak berdosa menunjukkan batunya pada saya.)
Saya : (melihat dengan tampang bego, mencoba untuk memahami dari sisi mana batu itu berbeda dari batu-batu yang sebelumnya, yang dikategorikan oleh adik saya sebagai bukan batu.)
Adik Saya : "Lihat nih, gw yakin yang ini batu. Warnanya kuning."
Saya : "Apanya yang batu, warnanya kuning begitu." (saya juga enggak tahu apa yang saya ucapkan tapi berdasarkan pengalaman saya selama hidup di dunia ini, warna kuning lebih identik dengan sesuatu yang bau bukan batu.)
Adik Saya : "Lihat ini. Warnanya kuning begini."
Saya : "Justru karena kuning."
Adik Saya : "Ya udah kalau lo gak percaya." (mengalihkan perhatiannya pada proses penghalusan batu lagi.)
Saya : ... (pergi dengan senang hati.)
Lima menit kemudian.
Adik Saya: "Kayaknya ini bukan batu."
Dan setelah tiga jam bolak balik antara dapur dan tumpukan pasir, akhirnya adik saya menyerah. Fiuh, untunglah.
Oct 11, 2011
Pernahkah Anda Memikirkan Ini?
Ehm, hallo ada orang disini? Sigh, ternyata tidak ada. Menyedihkan.
Ok, anggap saja saya bicara sendiri. Begini, tadi saya mendengar sebuah lagu judulnya "Andaiku Gayus Tambunan", lalu tahukah anda bahwa secara kebetulan saya menemukan sebuah makna dan pesan tersembunyi dari lagu tersebut.
1. Orang itu masuk penjara selama kira-kira tujuh bulan dan badannya jadi kurus! Pesan tersirat yang bisa anda dapatkan adalah bagi anda yang ingin diet dan mendapatkan hasil yang maksimal dalam waktu kurang dari satu tahun, silahkan merampok bank terdekat dan siapkan batin untuk di penjara. Semoga vonis hukuman yang diberikan pada anda hanya tujuh bulan dan tidak lebih. Amin.
Sep 15, 2011
Cincin dan Manfaatnya
Suatu hari, seseorang pernah mengajariku sesuatu, bukan hal yg istimewa sebenarnya tapi mungkin cukup berguna.
"Gunakanlah satu buah cincin di tanganmu."
Kamu mungkin bertanya-tanya apa gunanya? Itu berguna, kawan. Pertama, cincin itu bisa digunakan untuk melamar pacarmu jika cincin yang sudah kamu siapkan sejak berbulan-bulan yang lalu tertinggal, hilang atau berkarat. Satu-satunya kelemahan yang mungkin terjadi adalah pacarmu ternyata tidak ingin menikahimu dan membuang cincin itu ke tong sampah karena ia tahu bahwa cincin itu adalah hadiah darinya yang merupakan hadiah dari salah satu makan ringan.
"Gunakanlah satu buah cincin di tanganmu."
Kamu mungkin bertanya-tanya apa gunanya? Itu berguna, kawan. Pertama, cincin itu bisa digunakan untuk melamar pacarmu jika cincin yang sudah kamu siapkan sejak berbulan-bulan yang lalu tertinggal, hilang atau berkarat. Satu-satunya kelemahan yang mungkin terjadi adalah pacarmu ternyata tidak ingin menikahimu dan membuang cincin itu ke tong sampah karena ia tahu bahwa cincin itu adalah hadiah darinya yang merupakan hadiah dari salah satu makan ringan.
Aug 30, 2011
Kanker
Mereka, sel-sel itu, berperilaku seperti binatang dalam tubuh manusianya. Kanibal bodoh yang hanya tahu bagaimana cara untuk terus hidup dan berkembang biak tanpa pernah berpikir bahwa suatu saat nanti sumber daya dan tempat tinggal mereka akan habis. Kalau dipikir-pikir, ia dan sel-sel dalam tubuhnya itu tidak jauh berbeda, iya kan? Ia dan bangsanya hanya tahu bagaimana cara untuk menghabiskan sumber daya alam dunianya, tanpa memperhitungkan bahwa apa yang ia lakukan ternyata membunuh dunianya.
Aug 28, 2011
"Pros Don't Think, They Feel"*
Yeah, saya rasa itu alasannya kenapa saya tidak bisa menulis cerita lebih dari satu paragraf. I'm still an amateur. I'm still thinking, not feeling. Penulis menulis berdasarkan nalurinya, beberapa orang menyebutnya instinct. Pacar saya pernah bilang, eh? Iya, pacar, malaikatkan tidak harus jomblo? Iya kan? Eh, ganteng? Tidak, dia cantik dan saya yang ganteng laki-laki. Secantik bidadari? Mungkin atau mungkin juga lebih, entahlah, saya belum pernah melihat bidadari sebelumnya. Tapi, seperti yang saya bilang sebelumnya, cinta itu buta dan saya sedang jatuh cinta jadi, ya, secara tak langsung saya buta dan kurasa cinta adalah obat kecantikan alami, cinta membuat perempuan semakin cantik, iya kan? Ah, sudahlah, kembali ke post ini. Dia bilang, Stephen King, jangan tanya saya dia siapa saya juga tidak tahu, pernah bilang di bukunya kalau mau jadi penulis biasakan menulis 2000 kata sehari. Nah, menulis 2000 kata itu mudah, kita bisa saja menulis kata "Cantik" 2000 kali, masalahnya menulis 2000 kata yang saling berkaitan dan berkualitas itu yang sulit. Dairy mungkin pilihan yang paling mudah, anda menulis apa yang sudah terjadi, mengubah apa yang anda lihat, dengar dan rasakan menjadi tulisan yang meskipun BELUM berkualitas setidaknya berkaitan. Mungkin, suatu saat nanti, dairy anda akan jadi tulisan yang berkualitas, selama anda terus dan terus menulis.
Satu hal yang menjadi masalah disini adalah saya tidak mungkin menulis dairy. Alasan pertama, saya tidak punya buku dairy, jadi bagaimana saya bisa menulis? Disini? dan dibaca oleh ratusan atau mungkin ribuan bahkan jutaan orang? Tidak, terima kasih. Jangan tanya kenapa, coba saja, anda bacakan isi dairy anda di depan umum. Alasan kedua, mungkin isi dairy saya akan seperti ini.
Satu hal yang menjadi masalah disini adalah saya tidak mungkin menulis dairy. Alasan pertama, saya tidak punya buku dairy, jadi bagaimana saya bisa menulis? Disini? dan dibaca oleh ratusan atau mungkin ribuan bahkan jutaan orang? Tidak, terima kasih. Jangan tanya kenapa, coba saja, anda bacakan isi dairy anda di depan umum. Alasan kedua, mungkin isi dairy saya akan seperti ini.
Aug 24, 2011
Gombal
Pertanyaan pertama tahukah anda apa itu Gombal?
Menurut, salah satu website paling terkenal di dunia bernama GOOGLE,
1. Gombal adalah kata dari Bahasa Indonesia yang mengekspresikan sesuatu yang tidak berguna atau tidak berarti, dalam Bahasa Inggris, artinya hampir sama dengan kata shit atau bullshit.
2. Gombal adalah rayuan sesorang kepada orang yang dijadikan target tertentu. Bisa dijadikan pacar, istri, pembantu, dan sekutunya.
3. Gombal adalah bohong, omong kosong, rayuan.
4. Gombal adalah kain yang sudah tua (sobek-sobek).
5. Gombal adalah ucapan yang tidak benar, tidak sesuai dengan kenyataan, omongan bohong.
Menurut, salah satu website paling terkenal di dunia bernama GOOGLE,
1. Gombal adalah kata dari Bahasa Indonesia yang mengekspresikan sesuatu yang tidak berguna atau tidak berarti, dalam Bahasa Inggris, artinya hampir sama dengan kata shit atau bullshit.
2. Gombal adalah rayuan sesorang kepada orang yang dijadikan target tertentu. Bisa dijadikan pacar, istri, pembantu, dan sekutunya.
3. Gombal adalah bohong, omong kosong, rayuan.
4. Gombal adalah kain yang sudah tua (sobek-sobek).
5. Gombal adalah ucapan yang tidak benar, tidak sesuai dengan kenyataan, omongan bohong.
Subscribe to:
Posts (Atom)