Dec 11, 2016

Short Story of #JuruBicaraJKT

Once upon a time, I watch a stand up comedy world tour...

be a part of history

And the rest is history.

THE END xP

Nov 7, 2016

Kadang Kadang

Kadang-kadang, saya mau menulis sesuatu, tapi kemudian terhalang oleh ini itu. Lalu, lupa, lalu? Lalu, akhirnya saya tidak menulis apapun.

#semogapostinibisadapatpenghargaanrekormurisebagaipostterpendek #krik

Apr 1, 2016

Bukan Untuk Anak Di Bawah Umur

Sesungguhnya, saya tidak seharusnya menuliskan ini, tapi berhubung saya  sedang tidak ada bahan menulis yang lebih baik dan saya sudah bertekad menulis lebih banyak tahun ini jadi apa boleh buat.

Beberapa hari ini banyak berita tentang ketua PSSI yang kabur ke luar negeri dan kabarnya kaburnya ke Singapura. Pertanyaannya nih, kenapa kaburnya ke Singapura?

Nih, sebagai Malaikat yang baik, saya kasih tahu kalau kabur dari kejaran polisi terutama jika dilakukan untuk waktu yang lama, Singapura itu pilihan yang buruk. Kalau kalian pernah belajar ekonomi dan soal investasi ada pepatah yang bilang "Earn in Dollars and spent in Rupees" yang artinya cari pekerjaan itu yang digajinya dengan mata uang yang besar dan dihabiskan di negara yang biaya hidupnya rendah. Biar gaji kita enggak habis untuk biaya hidup dan bisa ditabung gitu deh.

Berpegang teguh pada pepatah itu, saya sarankan ketua PSSI saat ini lebih baik kabur ke tempat yang biaya hidupnya lebih rendah daripada Indonesia. Karena biaya hidup di Indonesia ini udah lumayan murah agak sulit menemukan negara yang biaya hidupnya lebih murah lagi. Menurut data di sini (per hari ini 1 april 2016, kalau suatu saat kalian baca tulisan ini di masa depan atau masa lalu dan datanya berbeda ya jangan salahkan saya), Indonesia itu biaya hidupnya nomor 98 dari 122. Jadi, kalau ketua PSSI mau kabur ada baiknya ke negara dari nomor 99 sampai 122 bukan ke Singapura yang menurut data yang sama ada di peringkat ke 7. Bunuh diri itu namanya, udahlah dia sedang status DPO, kabur ke negara yang biaya hidupnya peringkat 7 paling mahal di dunia padahal gajinya cuma gaji negara yang biaya hidupnya peringkat ke 98 di dunia, bagimana mau bertahan lama? Belum lagi kalau di Singapura, mau apa-apa harus menunjukkan passport, bisa-bisa baru beberapa hari sudah tertangkap, agak kurang leluasa rasanya kalau kabur ke sana. Bahkan jika dia masih digaji sekalipun pasti gajinya akan sulit menutupi biaya hidupnya di sana.

Saran saya lebih baik kabur ke India alasan pertama karena biaya hidupnya adalah yang paling rendah menurut data tadi. Saya belum pernah ke India sih, tapi menurut data di sini jumlah penduduk di India sekitar 1,322,908,307 orang ketika saya mampir ke sana beberapa detik yang lalu, kalau saat kalian lihat sudah berubah ya memang begitu adanya selalu ada satu orang anak yang lahir setiap tiga detiknya. Awalnya saya juga agak bingung itu jumlah populasi India atau jumlah senyumanmu ketika mampir di blog ini, tapi jumlah itu terlalu banyak jadi ya itu jumlah penduduk India. Dengan jumlah penduduk sebanyak itu, bayangkan kalau ketua PSSI bersembunyi di India, betapa sulitnya mencari dia ke sana? Ada 1,3 milliar orang dan terus bertambah setiap detiknya. Pekerjaan polisi pasti akan sangat berat sekali bagaikan mencari jerami ketua PSSI di dalam tumpukan jerami penduduk India.

Itu kita tinjau dari sisi ketua PSSI, kalau kita tinjau dari sisi negaranya. Singapura itu negara kaya, kepergian ketua PSSI ke sana untuk menghabiskan uangnya sungguh perbuatan yang kurang mulia, akan lebih mulia jika uangnya dihabiskan di India yang masih merupakan negara berkembang. Jadi, ketika dia sedang menimbun dosa kabur dari kejaran polisi sekalian beramal membantu penduduk India supaya hukumannya di neraka nanti tidak terlalu berat, mudah-mudahan pahalanya bisa melampaui dosanya sehingga dia tidak harus masuk neraka.

Sekian saran dari saya, semoga ketua PSSI membacanya dan segera pindah ke India sebelum uangnya habis lebih banyak di Singapura tanpa mendapatkan pahala apa-apa.

Mar 15, 2016

Tulisan Pendek

Ini cuma post pendek karena saya sibuk. (Sebenarnya sibuk cuma alibi sih. Alasan sebenarnya tidak ada ide. #halah)

Jadi, gini. Hari ini hari yang indah seperti biasa dimulai dengan pagi yang cerah dan siang yang panas lalu sore yang hujan. Tidak ada yang spesial kecuali sebuah percakapan sederhana yang terdengar oleh saya.

Y: (Entah dia bilang apa saya tidak terlalu memperhatikan percakapan mereka pada awalnya.)
X: Sasuga. Kamu luar biasa Y.
Lalu, tiba-tiba kayak jelangkung datang tidak diundang pulang tidak diantar muncul Z.
Z: Sasuga apaan sih? Nama makanan Jepang?

Pertanyaan Z ini membuat saya melayang ke dua juta lima ratus enam puluh delapan ribu tiga ratus dua puluh tahun sebelas bulan yang lalu. Ingatan saya yang memang sering gagal mengingat sesuatu karena terlalu banyak menyerap informasi tidak penting tiba-tiba bekerja dengan baik. Dan, bukan, saya bukan mencari informasi tentang arti kata sasuga, ingatan saya mencari puluhan ribu kejadian yang sama, dimana kata- kata yang tidak di mengerti oleh seseorang selalu diidentikkan dengan makanan. Kenapa sih kalian kalau tidak mengerti arti dari sebuah kata, kata itu langsung diartikan sebagai makanan? Bayangkan kalau arti kata itu sesuatu yang merusak selera makan seperti pup. Sebentar, kalian tahu pup, kan? Jangan bilang enggak tahu terus kalian tanya "Pup itu apa? Nama masakan Itali?" Karena kalau begitu saya akan dengan senang hati menjawab...

"IYA, PUP MASAKAN ITALI! NOH DI WC YANG GULUNGAN KUNING-KUNING YANG TIAP PAGI KALIAN SETORIN. MAKAN TUH MASAKAN ITALI!"

Haah. Sabar, sabar.

Jadi, gini sekedar saran aja supaya kalian tidak makan pup suatu hari nanti, tolong semua kata-kata yang tidak kalian ketahui artinya jangan diasosiasikan sebagai makanan.

Terima kasih.


Jan 27, 2016

Baper

Hai. Setelah hampir setahun vakum akhirnya saya mulai menulis lagi kemarin (beberapa hari yang lalu sih tepatnya) dan sekarang saya mendapatkan bahan tulisan lagi.

Sesuai judulnya, ini masalah baper. Baper menurut anak gaul jaman sekarang berarti Bawa Perasaan. Sebagai pengguna dan bukan anak gaul, saya ngikut aja apa kata mereka. Toh, memang kata itu mereka yang ciptakan. Tapi, masalahnya nih, kenapa baper cuma berlaku untuk perasaan sedih?

Contoh:
Kalau ada cewek cantik habis nonton film drama korea terus pacarnya mati. Pacar dari pemeran utama di drama korea itu maksudnya, bukan pacar dari cewe yang nonton drama korea. Saya ini malaikat pencatat dosa bukan pencabut nyawa jadi enggak sembarangan mematikan pacar orang, kecuali pacar dia—ba****an. Jadi, kembali ke masalah drama korea tadi. Setelah menonton drama korea yang pacarnya mati, pasti si cewek langsung baper alias bawa perasaan alias sedih. Nangis tujuh hari tujuh malam gak mau makan padahal yang mati cuma karakter di film agak bodoh sebenarnya tapi karena yang nonton cewek cantik jadi udalah kita abaikan aja.

Tapi, kalau misalnya drama korea itu berakhir bahagia dan langeng sampai nenek kakek (agak jarang—sebenarnya malah enggak pernah—terjadi karena drama korea biasanya berakhir sebelum pemerannya tua) si cewe enggak bakal bilang dia bahagia, pasti bilangnya baper juga a.k.a bawa perasaan a.k.a sedih soalnya kehidupan percintaannya enggak semulus di film itu. Terus, dia nangis lagi tujuh hari tujuh malam gak mau makan kecuali disuapin sama pacarnya. Ngeselin sih, tapi sekali lagi, karena dia cantik dan bukan pacar saya juga jadi mari kita abaikan.

Contoh lain lagi, misalnya ada sepasang sahabat (sahabat bukan kekasih) keduanya perempuan, kita sebut saja Jahe dan Kunyit  soalnya saya bosan menggunakan nama samaran Mawar dan Melati. Suatu hari, Jahe baru putus dengan pacarnya. Lalu, dia cerita ke Kunyit sambil menanggis tersedu-sedu sampai sebulan. Iya, mereka berdua sampai bolos kuliah demi meratapi putusnya Jahe dengan pacarnya, sampai-sampai keduanya gak mandi sebulan dan kalau mau makan, makanannya minta dianterin pakai Gojek (kalian tahu gojek? BUKAN! BUKAN TEMANNYA TAHU GEJROT! TABOK NIH!) Nah, setelah sebulan berlalu, akhirnya mereka keluar kamar lalu mandi. Tiga hari mandinya, sabunnya sampe habis delapan botol, sampo empat botol, semuanya dipesan pake Gojek. (APA?! MAU BAWA-BAWA TAHU GEJROT LAGI?!) Keluar-keluar udah wangi dan bersih, tapi kriput kayak nenek-nenek umur 100 tahun. Untung, sebulan kemudian kulitnya kembali kencang. Lalu, Kunyit dapat pacar. Dia cerita sama Jahe. Sebagai teman yang baik, Jahe ikut senang, tapi Kunyit tahu kalau Jahe sebenarnya masih sedih. Jadi, dia tanya kepada Jahe, "He, loe gak baper, kan?"

Ok, cut!

Sampai disitu aja ceritanya karena kita udah memasuki bagian yang perlu dibahas. Lihat pertanyaan dari Kunyit. Loe. Gak. Baper. Kan. Kenapa harus menggunakan kata baper kalau yang dimaksud adalah sedih? Jahe kalau jawab gue baper sih, tapi gue senang kok lo dapat pacar gimana? Coba kalian pikirkan. Kunyit lagi senang dapat pacar, terus Jahe baper. Bapernya Jahe ini harusnya Baper senang kan? Tapi, ternyata Bapernya Jahe masih Baper sedih juga. Jadi, Baper ini sebenarnya sedih kan artinya? Iya, kan? (Kalau kalian mau jawab enggak pulang aja deh, gak usah baca-baca blog saya lagi. Sedih saya pembaca blog ini udah dikit, gak belain saya selaku penulisnya pula.) Dasar anak gaul kalau bikin kata baru suka aneh-aneh, bikin malaikat gak gaul seperti saya pusing aja.

Dari ketiga contoh di atas kita bisa menarik kesimpulan bahwa enggak pernah ada baper bahagia padahal arti dari kata baper adalah bawa perasaan. Perasaan apa yang dibawa? Galau dan sedih yang kebanyakan karena masalah cinta, entah itu cinta yang nyata atau cinta yang fiksi. Jadi, untuk memberikan penjelasan yang lebih lengkap jika suatu hari baper mau dimasukkan ke dalam KBBI saya menawarkan solusi penjelasan kata Baper sebagai berikut:

Baper [a] bawa perasaan (sedih, galau, gundah, galau lagi, sedih lagi, galau lagi, dsb) kebanyakan karena masalah percintaan atau masalah drama korea atau masalah kehidupan percintaan atau masalah pacar orang atau masalah pacar sendiri yang kesemuanya tidak dialami atau sudah pernah dialami oleh pelaku baper.

Sekian tulisan saya kali ini. Semoga tidak bermanfaat. Terima kasih.

Jan 21, 2016

DOR!

Hampir setahun saya tidak post di sini. Padahal janjinya mau post. Ah, tapi kalian tahu sendiri tahun lalu itu masa-masa yang sibuk bagi malaikat seperti saya. Semua gara-gara ISIS, kelompok teroris yang mau mendirikan negara Islam sambil membantai banyak orang.

Sebagai malaikat, tugas saja jadi semakin berat karena ada semakin banyak kejahatan yang harus dicatat dan yang paling menyibukkan adalah ada semakin banyak roh yang harus diantar ke surga dan neraka. Kalian tahu kalau surga itu ada di atas langit dan neraka ada di bawah tanah, nah bayangkan setiap hari ada ribuan (kadang kalau beruntung cuma ratusan, kalau sedang sial sampai ratusan ribu) orang yang mati entah dibunuh, terbunuh atau keduanya, lalu saya harus mengantarkan mereka semua naik turun dari ke neraka dan surga. Kalau kalian ingin tahu bagaimana rasanya mengantar roh bolak balik neraka dan surga, coba masuk ke hotel bintang lima. Pilih yang punya dua puluh lantai, lalu naik ke lantai sepuluh. Lalu, naik ke lantai dua puluh atau kembali ke lantai satu. Ulangi kegiatan itu sebanyak seratus kali, tidak masalah kalau mau menggunakan lift. Toh, pada perjalanan ke dua puluh juga kalian pasti sudah diusir sama satpamnya karena main-main dengan fasilitas lift mereka dan kalian terpaksa melanjutkannya dengan naik turun tangga, itu pun kalau kalian belum diusir dari hotel itu. Nah, itu kalian cuma naik turun dua puluh lantai, saya naik turun surga dan neraka. Bayangkan! Sesulit itulah hidup saya setahun terakhir ini. Tapi sudahlah, mari kita lupakan sejenak pekerjaan saya yang melelahkan itu.

Hari ini, saya membawa sebuah cerita untuk di tuliskan. Ini masalah pacaran. Untuk kalian yang jomblo, cerita ini mungkin akan sedikit perih seperti luka yang ditaburkan dengan garam lalu segera dibilas (tapi dibilas menggunakan cuka). Oke, itu bukan sekedar sedikit perih, tapi perih sekaliiiii. (Huruf i-nya sampai lima berarti level perihnya sudah sampai ke ubun-ubun. Kalau ditambah lagi, saya takut kalian tidak sanggup menahan rasa perihnya.) Tapi, kalian harus kuat karena cerita ini mungkin akan berguna saat kalian pacaran nanti.

Begini, ceritanya...

Pagi ini seperti biasa saya bangun kesiangan karena terlalu capek mengantarkan roh dari korban ISIS dan roh dari non-korban ISIS. Kalian pikir gara-gara ada ISIS yang mati cuma korban ISIS? Sayang sekali, tapi selain ISIS masih banyak lagi penyebab kematian lain, misalnya bocah-bocah berpikiran sempit yang mengira bahwa dengan bunuh diri, kehidupan mereka akan lebih baik. Padahal, sebaliknya. Kalau mereka bunuh diri kehidupan mereka berakhir di neraka, bukannya menjadi lebih baik. (Kalau menjadi lebih panas, saya percaya.) Belum lagi kenyataan bahwa setelah mereka mati, orang-orang terdekat mereka malah memburuk kehidupannya dan—ini yang paling penting—gara-gara mereka ada semakin BANYAK roh yang harus saya antar ke neraka. Kalian tahu tidak kalau neraka itu panas? Tahu, kan. Nah sekarang kalian coba berjemur di bawah terik matahari jam 12 siang setengah jam saja. Gimana rasanya? Enggak enak, kan? Panas, kan? Nah, apa kabar saya yang setiap hari harus turun-turun ke neraka yang panasnya lebih panas dari terik matahari jam 12 siang, mengantarkan roh dari mereka yang bunuh diri? Bagus kalau setelah diantarkan saya bisa langsung naik kembali ke bumi, ini saya masih harus ikut mengantri mengisi formulir pindah mereka ke neraka, ditambah menyerahkan catatan dosa mereka yang panjangnya sepanjang jarak dari bumi ke bulan dikali tiga. Belum lagi ditambah kenyataan bahwa di neraka tidak ada ruangan yang ber-AC dan sekalipun ada ACnya mati karena Raja Neraka tidak mau membayar tagihan listriknya. Terus ini kenapa saya jadi curhat masalah neraka yang enggak ada ACnya?

Baiklah, kembali ke topik awal kita. Masalah pacaran. Jadi, intinya tadi pagi saya bangun kesiangan dan selayaknya siapapun yang bangung kesiangan, saya tidak mandi pagi. (Apa?! Kalian mau meledek kalau saya bau? Kalian mau saya antar langsung ke neraka? Ha?! Ha?! Huff. Sabar-sabar. Lihat gara-gara kalian saya jadi marah-marah. Padahal sebagai malaikat seharusnya saya tidak marah-marah. Pokoknya dosa marah-marah ini akan saya masukkan ke dalam catatan dosa kalian, ditambah dengan dosa 'membuat marah-marah malaikat baik hati dan tidak sombong'.) Nah, dalam perjalanan saya menuju roh pertama saya pagi ini, saya berpapasan dengan seorang perempuan yang sedang menelepon pacaranya dan kalimat yang kebetulan terdengar oleh saya adalah "Say, kamu jangan lupa makan, ya."

Lalu, otak saya yang super sibuk langsung bekerja lebih sibuk karena tiba-tiba saja sebuah pertanyaan muncul dibenak saya. Kenapa semua orang yang pacaran selalu mengingatkan pacarnya untuk makan? Memangnya, pacar mereka anak TK umur enam tahun yang perlu diajari kalau makan pagi itu jam 6 paling telat jam 9, makan siang itu jam 12 dan makan malam itu antara jam 6 sampai jam 8? Kan, bukan. Orang yang pacaran itu minimal sudah SMP, itu juga gara-gara anak SMP jaman sekarang sok dewasa, sok-sokan bersikap kayak mereka yang berumur 20 tahunan dan kebanyakan nonton sinetron serta drama korea. Pacarannya juga tidak produktif (sebaiknya tetap begitu karena akan repot kalau mereka menjadi produktif dan menambah jumlah penduduk dunia yang memang sudah sangat banyak, meskipun sekarang semakin banyak yang produktif, yang sayangnya malah menambah pekerjaan saya karena jadi banyak roh janin yang harus ditutun ke tempat asalnya. Dasar bocah SMP tidak tahu diri, masih bocah udah bikin repot saya) cuma teleponan, jalan bareng, nonton bioskop, dan duduk-duduk sambil pelukan di pinggir jembatan (kalau saya bukan malaikan baik hati dan tidak sombong sudah saya dorong-dorongin yang pelukan di pinggi jembatan itu ke sungai. Mereka kira pinggir jembatan milik nenek moyang mereka apa? Memangnya, sudah enggak ada tempat lain yang bisa digunakan untuk pacaran? Kalau memang tidak punya modal untuk pacaran ya udah enggak usah pacaran, enggak usah pelukan di pinggir jembatan, minta banget dijorokin ke bawah. Cih!). Apa coba itu? Pacaran kerjanya cuma jalan-jalan dan menghabiskan pulsa dan menambah daftar dosa yang harus saya catat. Bikin kesal aja.

Tarik napas. Hembuskan. Tarik napas. Hembuskan.

Oke, kembali ke masalah mengingatkan makan tadi. Pasangan-pasangan yang pacaran itu seharusnya sadar bahwa mereka itu sudah sama-sama dewasa (kecuali bocah SMP dan SMA yang sok dewasa dan minta dijorokin ke dasar sungai) jadi sudah bukan umurnya lagi untuk mengingatkan satu sama lain tentang jam makan. Mengingatkan satu sama lain sebenarnya bukan kata yang cocok untuk digunakan dalam kalimat tadi. Karena menurut survei yang saya lakukan, sebenarnya kegiatan mengingatkan makan itu cuma berlaku satu arah dari yang perempuan ke yang laki-laki, sementara yang laki-laki biasanya tidak pernah mengingatkan yang perempuan untuk makan karena mereka saja lupa untuk makan, gimana mau mengingatkan yang perempuan untuk makan?

Dan, anehnya. Ternyata yang dingatkan itu cuma makan. Jarang ada pasangan yang mengingatkan untuk mandi, padahal kita sama-sama tahu kalau laki-laki (dan sebagaian perempuan terutama pada saat liburan) jarang mandi. Bahkan, pernah ada masa liburan sekolah di salah satu komplek yang saya lewati tanpa sengaja mengeluarkan bau asem dan setelah saya selidiki (sambil menggunakan masker) ternyata populasi anak remaja di sana sangat banyak dan hampir semuanya tidak mandi selama liburan. Belum ditambah dengan yang mandi tapi ternyata cuma dua menit di dalam kamar mandi dan saat keluar cuma basah tapi masih mengeluarkan bau asem yang sama. Dasar jorok!

Jadi, untuk kalian yang masih jomblo. Jika suatu hari nanti kalian punya pacar (yang menurut penerawangan saya sebagai malaikat masih akan lama sekali), jangan cuma mengingatkan pasangan kalian tentang makan tapi juga mandi. Tolong hargai hidung saya yang kadang terpaksa harus berpapasan dengan kalian.

Maaf sepertinya tulisan ini harus segera diakhiri karena sudah ada ratusan roh yang mengantri untuk saya antarkan, padahal saya baru mulai menulis tulisan ini setengah jam yang lalu. Haah. Kapan sih kalian berhenti untuk membunuh satu sama lain?

Feb 13, 2015

Valentine dan Jomblo

Tulisan ini dibuat karena saya merasa bersalah setelah berjanji untuk menghidupkan kembali blog ini, saya tak kunjung menuliskan apapun.

Valentine itu lebih identik pada couple/pasangan, tapi apalah asiknya menulis tentang sesuatu yang sudah diketahui oleh orang banyak? Semua orang dari anak SD (bahkan mungkin TK atau PAUD) tahu bahwa Valentine itu hari kasih sayang dimana mereka yang punya pasangan melakukan hal-hal romantis bersama pasangannya masing-masing (tetapi tidak menutup kemungkinan bersama pasangan orang lain juga). Lalu, bagaimana dengan mereka yang tidak punya pasangan? Hmm, para jomblo punya dua pilihan. Pertama, mereka bisa menyatakan cinta pada seseorang di hari Valentine, lalu (jika diterima) melakukan hal-hal romantis bersama. Kedua, mereka bisa tiduran di kamar sambil twitteran atau baca blog ini, lalu berharap diluar hujan deras sehingga jika ada yang bertanya "Gak keluar sama pacarnya?" Mereka bisa menjawab, "Aduh, jangan bahas itulah. Sedih gw kalau ditanya soal itu. Sialan banget nih hujan, padahal gw udah sewa EO sama restoran buat malam ini. Rencananya gw mau ngelamar dia." sambil berharap siapapun yang bertanya tidak sok baik hati dan meminjamkan mobilnya lengkap dengan setelan jas terbaiknya.

Anyway, bukan itu yang mau saya bahas kali ini, yang ingin saya bahas kali ini adalah keuntungan menjadi jomblo pada saat Valentine. Para jomblo punya sepuluh keuntungan dibandingkan mereka yang sudah punya pacar di hari Valentine.

Pertama, ini sebenarnya sudah disebutkan di atas, tapi karena saya sedang kekurangan bahan, jadi disebutkan lagi. Ini adalah keuntungan terbesar menjadi seorang jomblo di hari Valentine. Para jomblo bisa menyatakan cinta pada orang yang disukainya dan menaikkan status mereka dari teman menjadi pacar (atau turun menjadi orang asing).

Kedua, para jomblo bebas menerima coklat dari siapapun sebanyak apapun dan secakep apapun yang ngasih, tanpa perlu takut dimarahin sama pacarnya. Meskipun, harus diakui, biasanya para jomblo hanya mendapatkan coklat dari teman dekatnya. Terkadang, temannya malah bukan lawan jenis. Lebih parahnya lagi, coklatnya coklat sisa. Terus, ternyata itu sisa pacar temannya itu dan pacarnya tahu, lalu marah-marah gak jelas. Tapi, ambil sisi positifnya aja, setidaknya masih ada yang ngasih coklat.

Ketiga, para jomblo gak perlu mengeluarkan uang banyak untuk membeli coklat mahal, cukup dengan modal lima ribu rupiah, mereka sudah bisa mendapatkan coklat untuk semua orang yang perlu dikasih coklat. Iya, lima ribu. Belinya coklat chacha, setiap orang dikasih tiga butir. Sisanya makan sendiri. Memang, terkesan agak pelit, tapi siapa yang perduli? Mereka yang dikasih coklat? Helllowwww. Memangnya habis dikasih coklat mereka mau jadian? Enggak, kan? Ya udah, coklat chacha tiga butir aja udah lebih dari cukup lah. Kebanyakan malah harusnya sebutir aja.

Keempat, para jomblo enggak perlu repot mencari kado valentine untuk pacarnya. Pacar aja belum punya, ngapain nyari kado valentine? Buat pacar masa depan? Kayak punya masa depan aja.

Kelima, para jomblo bisa tidur lebih awal. Pada hari valentine, keadaan di luar kamar akan sangat pedih untuk dilihat karena di setiap ruangan, pengkolan, bangku taman, bahkan di dalam semak-semak, akan ada sepasang kekasih yang sedang memadu kasih. Bayangkan ketika keluar kamar ada adik/kakaknya yang sedang pacaran di ruang tamu, baru keluar rumah di belokan depan ada yang pacaran di atas motor, jalan ke taman, bangku taman penuh sama yang pacaran, pas mau pulang tiba-tiba ada yang bergerak-gerak di semak-semak dan setelah didekati ternyata sepasang pemuda. Daripada tersiksa melihat adegan romantis yang menjijikkan nan menyayat hati itu lebih baik tidur lebih awal. Iya, kan?

Sisanya cari sendiri, ya. Soalnya mau saya simpan untuk tahun depan, kalau tahun depan saya sedang bosan dan masih jomblo lalu kebetulan blog ini masih ada dan saya sedang berminat menulis, saya akan tulis keuntungan keenam sampai kesepuluhnya.

Semoga informasi di atas bisa membantu kalian untuk tetap hidup melewati tanggal 14 februari nanti. Kalau kalian masih merasa ini belum cukup, saya akan memberikan sebuah informasi yang semoga bisa membantu : "Ternyata, Line bisa memindai QR code dari galeri foto."

Sekian dan terima kembalian serta saweran. Tapi, tidak menerima sumbangan.